Review Buku: Ke mana Bahtera ini Berlayar?
March 06, 2023Oleh: Shona Ummu Atharrayhan
Heran maksimal, kenapa buku ini beserta teman-temannya habis di penerbit dan belum dicetak ulang? Dan suaranya nggak terlalu riuh terdengar di seantero Nusantara. Bagi penikmat buku, buku yang bagus nggak akan terlewatkan begitu saja. Tapi saya benar-benar baru tahu buku ini di kajian Ustadz Irawan tahun lalu. Apakah teman-teman mengalami hal yang sama?
Buku ini sebenarnya terdiri dari 6 seri. Dan saya memutuskan untuk membacanya secara berurutan, supaya bisa mendapatkan pemahaman yang baik & bertahap.
Adapun serinya terdiri dari:
1. Ke mana Bahtera Ini Berlayar?
2. 10 Jurus Mendidik Anak
3. Seni Komunikasi Anggota Keluarga
4. Anakmu Sudah Remaja
5. 10 Problem Utama Anak & Solusinya
6. Membuat Anak Kecanduan Membaca
Dan baru membaca buku seri ke-1 sudah membuat saya jatuh cinta. Awalnya agak susah mencerna, karena bahasanya memang agak serius. Tapi lambat laun saya bisa memahami & mengikuti dengan lebih baik.
Buku ini ditulis oleh Prof. DR. Abdul Karim Bakkar. Beliau seorang pengajar serta penulis populer, juga aktif mengisi ceramah di berbagai negara. Seorang cendekiawan muslim pakar bidang keluarga.
Berjumlah 173 halaman, bagi saya isinya sudah sangat komplit. Dilengkapi dengan konsep, studi kasus & tips yang bisa diamalkan langsung oleh keluarga muslim. Tips yang bukan sembarang tips, tapi tips yang bersumber dari konsep al-Qur'an dan sunnah. Beberapa tips yang ingin saya amalkan atau sudah diamalkan tapi belum istiqomah, saya tandai dan garis bawahi. Tentu setiap keluarga memiliki permasalahan yang berbeda. Tapi saya ingin spoiler beberapa tips yang ingin saya amalkan. Boleh ya?
1. "Sang ibu juga meluangkan waktunya untuk anak-anak perempuannya. Ibu akan memberitahu mereka ketika akan tidur, 'Siapa yang ingin bangun untuk shalat malam beritahulah ibu, nanti ibu bangunkan.'" Halaman 69.
Konteksnya di sini ibu nggak memaksa, atau pun menyuruh, akan tetapi menawarkan.
2. "....setiap kehidupan yang tidak memiliki peraturan dan tata tertib akan mengalami berbagai jenis masalah dan kemunduran. Syari'at islam menegaskan pendirian ini karena semua praktik keagamaan islam terorganisir dengan baik dan di susun rapi dan tertib secara logis. Fakta sederhananya, bahwa semua praktik ibadah dalam islam memiliki waktu spesifik dan telah membuktikan penegasan ini." Halaman 102.
Membaca paragraf ini membuat saya tergerak untuk menuliskan jadwal baru. Sebelumnya seringkali hanya berupa poin-poin prioritas yang harus diselesaikan hari itu tanpa berbatas waktu.
3. "....tidak membuat permintaan yang tidak perlu dari anak-anak mereka, karena ketika orang tua berusaha sendiri dan tidak bergantung pada anak-anak mereka, kecuali bila diperlukan, anak-anak juga akan belajar untuk tidak bergantung pada orang lain, baik jauh maupun dekat." Halaman 115.
Jleb, sepertinya saya termasuk ibu yang overdosis dalam meminta tolong 🤭 Maklum karena lagi hamil 😅 *alesan.
4. "Senantiasa beribadah dan bersyukur kepada Allah 'azza wa jalla, sebagaimana diceritakan Ibnu Abbas radiyallahu'anhu, 'Ketika hendak mengkhatamkan al-Qur'an, beliau akan mengumpulkan seluruh anggota keluarganya, dan kemudian berdo'a bersama, mereka berdo'a karena telah mengkhatamkan al-Qur'an al-Karim.'" Halaman 132.
Setelah membaca ini saya langsung terkoneksi dengan tulisan Ustadz Budi Ashari di Instagram beliau. Foto ini adalah syukuran PJ Syar'i Kuttab Al-Fatih se-Indonesia yang lulus ujian dan mendapatkan syahadah Mutun Urjuzah.
"Oh yang tentang perayaan?" Jawaban suami klop dengan yang saya maksud.
"Iya, MasyaAllah. Gimana kalau setiap kali anak-anak kita selesai ujian Qur'an kita syukuran?" Usul saya.
"Boleh boleh. Tasmi' ya?"
"Bukan bay, ujian. Kalau tasmi' suka ngantri. Ujian lebih berat sebenarnya. Alhamdulillah kakak kan udah lulus ujian 3 juz sekali duduk dan teteh udah lulus ujian 29. Kita bikin syukuran yuk." Kata saya antusias.
"Oh ujian ya. Sip sip. Kapan?"
Kami pun merencakan agenda syukuran. Awalnya ingin mengundang keluarga terdekat, tapi anak-anak keberatan, malu kata mereka. Jadilah keluarga kecil kami saja. Dan ke depan kami berencana juga akan menyiapkan kado dari masing-masing anggota keluarga untuk yang lulus ujian. MasyaAllah, so exited!
5. "Kekompakkan keluarga juga bisa diperkuat dengan adanya forum obrolan dan diskusi. Misal salah satu anak diminta untuk mempresentasikan sebuah cerita atau narasi, atau untuk mengulas sebuah buku, sementara anggota keluarga lain mendengarkannya." Halaman 133.
Sebenarnya ini pernah kami lakukan, tapi belum istiqomah. Lagi-lagi PRnya istiqomah. Sama halnya tasmi' setiap Jum'at yang baru beberapa kali kami laksanakan. Semoga setelah ini Allah istiqomahkan kami, aamiin Allahumma aamiin....
Kelima kutipan di atas tentu belum seberapa jika dibandingkan tips-tips yang bertebaran di buku ini. Sehingga saya bisa simpulkan, rasa-rasanya buku ini wajib dimiliki oleh setiap keluarga muslim. Sedikit kekurangan dari buku ini, hanya di pemilihan tintanya. Berwarna kuning muda yang sulit dibaca untuk tulisan-tulisan tertentu, membuat saya mengerinyitkan dahi. Tapi kalau di buku-buku selanjutnya, pemilihan warnanya aman. Semoga cetak lagi ya penerbit.... (Dan warna kuningnya diganti, hehe....) Sayang banget lho! High recomended books.


0 Comments